EDISIKINI.COM, Yogyakarta — Saat ini kehidupan sudah mulai dikuasai oleh Artificial Intelligence (AI). AI bukan hanya sekedar tren teknologi, namun sebuah gelombang besar perubahan dalam cara belajar di kelas. AI adalah teknologi yang membuat mesin atau komputer dapat meniru kemampuan manusia dalam memahami, belajar, dan berpikir.
Saat ini AI sudah banyak digunakan di berbagai bidang, terutama di bidang pendidikan. Banyak siswa yang menganggap ini sebagai “malaikat penyelamat” yang memberikan kemudahan. Namun, tidak sedikit pula yang menganngap AI sebagai ancaman dalam proses pembelajaran.
AI sebagai peluang baru di dunia pendidikan. Apabila AI digunakan dengan tepat maka ini sangat membantu siswa dan guru dalam proses belajar mengajar. Bagi siswa ini sangat menguntungkan karena menggunakan AI sangat mudah, cepat, dan praktis. Semua informasi dan materi dapat diakses dengan mudah.
AI membantu siswa dalam menguasai materi dengan memberikan penjelasan tambahan, memberi koreksi sehingga siswa tahu dimana letak kesalahannya, dan memberikan saran sehingga siswa dapat membetulkan sesuai saran yang diberikan. Bagi guru AI berguna untuk membuat pembelajaran yang variatif dan tidak monoton agar siswa tidak mudah bosan. Namun, guru harus mengecek kembali kembali apakah materi dari AI itu valid atau tidak.
Pergeseran cara belajar dari mencari informasi ke mengelola dan memverifikasi informasi AI. Dahulu siswa mencari informasi dari berbagai media seperti, buku, koran, wawancara langsung. Namun, sekarang sudah berbeda, siswa hanya mengelola informasi dan memvalidasi apakah informasi yang ia dapat itu fakta objektif atau hanya sebuah rekayasa algoritma. AI berdampak pada budaya akademik seperti, diskusi, penulisan tugas, dan proses berpikir.
Dahulu ketika berdiskusi siswa aktif dalam bertanya, ada yang mempertanyakan apa yang ada pikirannya dan ada yang bertanya tentang masalah yang pernah ia alami. Namun, saat ini siswa tidak aktif dalam bertanya, bahkan jika diwajibkan bertanya siswa akan mencari pertanyaan di AI. Dalam penulisan tugas, siswa dahulu sering mencatat apa yang mereka pelajari agar dapat membukanya ulang ketika ada tugas dari materi tersebut.
Berbeda dengan sekarang, siswa cenderung malas menulis dan hanya mengandalkan AI untuk menjawab pertanyaan. Bahkan saat ini tidak sedikit siswa yang mengerjakan tugas dengan cara copy paste dari AI tanpa membacanya dahulu. Proses berpikir siswa sekarang banyak yang dangkal karena hanya mengandalkan AI tanpa mengasah otaknya dengan berpikir kritis dan memecahkan masalah.
Ancaman yang dihadapi saat ini adalah siswa sangat ketergantungan teknologi, terutama pada AI. Adanya AI, siswa menjadi malas membaca, menganalisis, dan dan berpikir kritis. Mereka lebih memilih bantuan dari AI tanpa memvalidasi informasi yang AI berikan. Hal ini dapat melemahkan literasi kritis yang sangat dibutuhkan di era digital ini.
AI sebagai alat pendukung pembelajaran, bukan pengganti peran pendidik. AI tidak hanya alat, melainkan sebagai agen perubahan yang meresap ke dalam struktur masyarakat. AI mengubah sosial dan budaya belajar. Dahulu budaya belajar terpusat pada guru dengan media buku.
Namun, saat ini bergeser menjadi budaya belajar mandiri yang didukung dengan teknologi yang canggih seperti AI. Interaksi sosial antara guru dan siswa sudah bergeser. Dahulu guru menjadi sumber ilmu, namun saat ini guru menjadi fasilitator. AI tidak dapat menggantikan interaksi sosial, jadi AI hanya menjadi pelengkap bukan penghancur dalam aspek kemanusiaan dan pendidikan.
Dimasa kini literasi digital sangat penting dan etika dalam menggunakan AI juga harus diperhatikan. Literasi digital tidak hanya tentang tahu cara mengoperasikan perangkat digital, tetapi juga memhami bagaimana cara kerja, batasan dan risiko dari teknologi tersebut. Siswa perlu memahami bahwa Ai bekerja berdasarkan kemungkina data, bukan jawaban yan mutlak benar.
Siswa juga perlu memahami bahwa AI hanya boleh digunakan untuk membantu kita memahami sesuatu tanpa harus menggantikan peran pendidik. Guru harus membimbing dan mengarahkan siswa dalam menggunakan AI, seperti kapan boleh menggunaan AI dan kapan tidak boleh. Selain itu guru juga perlu memberikan tugas yang tidak bisa dijawab secara langsung oleh AI, seperti melakukan observasi di lapangan atau berdiskusi secara lisan di kelas.
Ai memberikan peluang bagi siswa dengan membatu memahami materi dengan lebih dalam dan bagi guru AI membantu membuat pembelajaran menjadi lebih kreatif dan tidak membosankan. Namun, disisi lain penggunaan Ai juga membawa risiko ketergantungan terhadap teknologi seperti AI yang bisa melemahkan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah secara mandiri. Dari sudut pandang sosial antropologi, AI mengubah cara belajar yang dahulunya berpusat pada guru, namun sekarang guru sebagai fasilitator saja.
Oleh karena itu, peran pendidikan sangat penting dalam menanamkan literasi digital dan nilai etika yang kuat. Proses belajar harus berfokus pada pemngembangan kemampuan berpikir kritis dan memverifikasi data. Ai seharusnya menjadi alat pendukung, bukan pengganti peran guru dan penghancur kemampuan intelektual manusia. Keberhasilan pendidikan dimasa depan yang diisi AI tergantung pada bagaimana kita menggunakan teknologi secara bijak tanpa kehilangan kecerdasan intelektual.
Penulis: Rina Isnawati
Mahasiswa Institut Ilmu Al-Qur’an An-Nur Yogyakarta, kelas PAI B













