EDISIKINI.COM, Sragen – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) kembali menghadirkan inovasi pemberdayaan masyarakat melalui edukasi pemanfaatan limbah pertanian di Desa Ngargotirto, Kabayanan VI, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen. Kegiatan ini berlangsung sebagai respons atas tingginya harga pupuk kimia yang dirasakan warga dan belum optimalnya pemanfaatan bonggol jagung sebagai limbah pertanian.
Warga Desa Ngargotirto sebagian besar bermata pencaharian di sektor pertanian. Berdasarkan hasil wawancara dan diskusi dengan beberapa warga desa Ngargotirto, warga mengaku bahwa ketergantungan pada pupuk kimia menjadi beban biaya karena harganya terus meningkat, sehingga secara tidak langsung membebani kebutuhan produksi pertanian mereka. Sementara itu, limbah bonggol jagung yang dihasilkan setiap musim panen selama ini lebih banyak dibuang dan belum dimanfaatkan secara produktif.

Melihat fenomena tersebut, mahasiswa KKN Tim I Tahun 2026 Universitas Diponegoro (UNDIP), Azzahra Afta Dzulfikar, mahasiswa dari Program Studi Manajemen dan Administrasi Logistik, menginisiasi kegiatan edukasi terkait pemanfaatan bonggol jagung menjadi pupuk kompos dengan menerapkan konsep reverse logistics. Konsep ini menekankan pengelolaan kembali limbah yang biasanya dibuang agar dapat dimanfaatkan menjadi produk bernilai guna, dalam hal ini pupuk kompos pada (27/01/2026)
“Dengan penerapan reverse logistics, limbah yang selama ini tidak bernilai, seperti bonggol jagung, dapat diolah dan diintegrasikan kembali ke dalam siklus produksi pertanian sebagai pupuk kompos yang bermanfaat. Harapannya, hal ini dapat membantu warga dalam mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sekaligus menjaga lingkungan,” ujar Azzahra Afta Dzulfikar.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memberikan penjelasan dan demonstrasi langsung terkait tahapan pembuatan pupuk kompos dari bonggol jagung dan sampah organik rumah tangga. Warga terlihat antusias mengikuti sesi edukasi ini dan aktif dalam sesi tanya jawab mengenai proses pengolahan serta penerapan pupuk kompos pada lahan pertanian mereka.
Kegiatan ini juga didampingi oleh salah satu tokoh lokal, Bapak Suparman, yang memiliki pengalaman dalam praktik pembuatan pupuk organik. Menurut beliau, potensi limbah bonggol jagung sangat besar jika dimanfaatkan dengan baik.
“Selama ini bonggol jagung hanya dibuang dan belum dimanfaatkan secara maksimal. Padahal, jika diolah dengan cara yang tepat, bonggol jagung dapat dijadikan pupuk kompos yang bermanfaat untuk memperbaiki kesuburan tanah dan mengurangi ketergantungan warga terhadap pupuk kimia. Selain itu, bahan-bahan yang digunakan relatif mudah diperoleh dari lingkungan sekitar sehingga tidak memerlukan biaya yang besar,” ujar Pak Suparman.

Respon warga terhadap kegiatan ini terbilang sangat positif. Selain memahami langkah-langkah praktis pembuatan pupuk kompos secara mandiri, warga juga mulai menyadari manfaat ekonomi dan ekologis dari pemanfaatan limbah di sekitar mereka. Kedepan, Bapak Suparman berencana melanjutkan inisiatif ini melalui agenda bulanan berupa kegiatan pemanfaatan limbah lingkungan menjadi pupuk kompos, pembuatan aktivator, dan produk pendukung pertanian lainnya dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar warga.
Melalui program ini, mahasiswa KKN Undip berharap masyarakat dapat menerapkan pemanfaatan limbah pertanian secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Edukasi seperti ini tidak hanya berkontribusi pada peningkatan pengetahuan warga dalam pengelolaan sumber daya lokal, tetapi juga turut mendukung terciptanya lingkungan desa yang lebih bersih, produktif, dan berdaya.
Penulis: Azzahra Afta Dzulfikar
Mahasiswa Program Studi Manajemen dan Administrasi Logistik













