EDISIKINI.COM, Sragen – Athallah Nafis Akbar, mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip), melaksanakan demonstrasi pembuatan dan penggunaan alat alternatif pencacah limbah organik skala rumah tangga di Desa Ngargotirto, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen.
Kegiatan yang berlangsung di halaman Musholla Al-Fallah RT 13 ini dihadiri oleh warga Kebayanan VI yang meliputi RT 13, 14, 15, dan 16. Demonstrasi tersebut merupakan bagian dari Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro yang dilaksanakan pada periode 06 Januari hingga 10 Februari 2026.
Dalam kegiatan ini, Athallah memperkenalkan alat pencacah limbah organik yang dirancang secara sederhana dan ekonomis untuk kebutuhan rumah tangga. Alat tersebut mampu mencacah berbagai jenis limbah organik, seperti bonggol jagung, limbah sayuran, buah-buahan, rumput atau daun liar, serta pelepah pisang, sehingga lebih mudah diolah menjadi kompos.
Secara teknis, alat pencacah menggunakan ember plastik bekas cat sebagai wadah utama yang difungsikan sebagai ruang pencacahan. Di dalamnya terpasang poros (shaft) vertikal yang dilengkapi empat mata pisau berbentuk lengkung dengan susunan simetris. Konfigurasi pisau ini dirancang untuk menghasilkan gaya potong yang merata sehingga proses pencacahan menjadi lebih efisien.

Sistem penggerak alat memanfaatkan dinamo mesin cuci, yang dihubungkan langsung ke poros pemotong dengan sistem kelistrikan sederhana. Rangka penopang dibuat dari besi hollow dengan tinggi sekitar 40–50 cm untuk menjaga kestabilan alat saat beroperasi. Pada bagian bawah wadah dilengkapi pintu pengeluaran hasil cacahan, sehingga memudahkan pengambilan material setelah proses pencacahan selesai.
“Bahan-bahannya relatif murah dan mudah ditemukan. Dengan alat ini, limbah organik rumah tangga bisa dikelola sendiri sehingga membantu mengurangi volume sampah sekaligus menghasilkan bahan baku kompos,” ujar Athallah Nafis Akbar saat kegiatan berlangsung.
Berdasarkan hasil survei awal, sebagian besar warga Desa Ngargotirto belum memiliki sistem pengelolaan limbah organik yang berkelanjutan. Sisa dapur seperti sayuran, buah-buahan, dan daun kering umumnya langsung dibuang, padahal memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan kembali.
Antusiasme warga terlihat selama demonstrasi berlangsung. Beberapa peserta aktif mengajukan pertanyaan terkait cara penggunaan alat, keamanan pengoperasian, serta proses lanjutan pengolahan hasil cacahan menjadi kompos yang ramah lingkungan.
“Dengan proses pencacahan yang baik, bahan organik akan lebih cepat terurai dan kualitas kompos menjadi lebih optimal. Alat seperti ini sangat membantu dalam mempercepat proses pembuatan pupuk kompos,” ujar Pak Suparman, yang dikenal sebagai ahli di bidang pupuk kompos.
Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat Desa Ngargotirto semakin sadar akan pentingnya pengelolaan limbah organik secara mandiri dan berkelanjutan. Selain mendukung kebersihan lingkungan, pemanfaatan limbah organik juga berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia serta mendukung ketahanan pangan skala rumah tangga.
Penulis: Athallah Nafis Akbar
Mahasiswa Program Studi Prodi Teknik Mesin













