Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi: Bukan Sekadar Teori, tetapi Bekal Dinamika Akademik

Avatar photo
Sumber foto: Pinterest (https://pin.it/1mCCCg7YX)
Firman Setiawan

Penulis: Tyvania Azwa Safrina

Mahasiswa Program Studi Hukum, Universitas Airlangga

EDISIKINI.COM, Surabaya — Sejak menduduki bangku sekolah dasar kita sudah tidak asing lagi dengan salah satu pembelajaran wajib, yaitu Bahasa Indonesia. Meskipun menjadi bahasa yang selalu digunakan pada kehidupan sehari-hari, kenyataannya tidak sedikit siswa yang masih memperoleh hasil belajar yang kurang memuaskan dan mendapat nilai merah pada hasil ujian. Kondisi ini turut berlanjut hingga jenjang perguruan tinggi dimana Bahasa Indonesia menjadi mata kuliah wajib karena diamanatkan oleh Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 tentang Perguruan Tinggi.

Tetapi jika dicermati, masih banyak mahasiswa yang belum memahami etika dan kaidah dasar dalam berkomunikasi secara formal, bahkan ada sebuah unggahan yang viral akhir-akhir ini di media sosial aplikasi X yang memantik perhatian publik mengenai kemampuan komunikasi mahasiswa.

Dalam unggahan tersebut, seorang pengguna menyayangkan masih adanya mahasiswa yang belum memahami cara membuat alamat surat elektronik (email) yang profesional maupun menyusun pesan sesuai dengan etika komunikasi, seperti menuliskan isi pesan pada kolom subjek.

Meskipun tampak sebagai kesalahan sederhana, fenomena ini menunjukkan persoalan yang lebih serius. Tidak sedikit mahasiswa yang hanya mengikuti perkuliahan Bahasa Indonesia sebatas masuk kelas duduk dan mendengarkan, tanpa mengimplementasikan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan yang terjadi adalah seluruh kegiatan akademik yang berlangsung di perguruan tinggi tidak akan pernah lepas dari peran Bahasa Indonesia.

Pentingnya pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya tercermin dari statusnya sebagai mata kuliah wajib. Lebih dari itu, terdapat berbagai manfaat yang menjadikannya sebagai bekal utama bagi mahasiswa selama menempuh pendidikan tinggi hingga memasuki dunia profesional. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:

Menjadi modal awal dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah

Dalam kehidupan akademik di perguruan tinggi, karya tulis ilmiah telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran mahasiswa. Mahasiswa akan dihadapkan pada berbagai bentuk karya tulis ilmiah, seperti makalah, proposal penelitian, artikel ilmiah, laporan praktikum, laporan penelitian, hingga tugas akhir atau skripsi sebagai syarat kelulusan. Setiap jenis karya tulis tersebut tidak hanya menuntut penguasaan materi, tetapi juga kemampuan menyampaikan gagasan secara logis, sistematis, objektif, dan sesuai dengan kaidah penulisan ilmiah. Kemampuan tersebut tidak muncul secara instan, melainkan dibangun dengan dasar melalui pembelajaran Bahasa Indonesia yang menjadi fondasi dalam penulisan akademik. Dalam mata kuliah Bahasa Indonesia, mahasiswa dibekali berbagai kompetensi dasar yang sangat diperlukan dalam penyusunan karya tulis ilmiah, mulai dari memahami penggunaan ejaan sesuai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), memilih diksi yang tepat, menyusun kalimat efektif, membangun paragraf yang padu dan koheren, hingga mengembangkan argumen yang didukung oleh data dan sumber yang kredibel. Selain itu, mahasiswa juga mempelajari teknik pengutipan, parafrasa, penyusunan daftar pustaka, serta etika penulisan ilmiah untuk menghindari praktik plagiarisme. Bekal tersebut menjadi modal awal yang penting agar mahasiswa mampu menghasilkan karya tulis ilmiah yang tidak hanya memenuhi kaidah kebahasaan, tetapi juga memiliki kualitas akademik yang baik, mudah dipahami, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Melestarikan etika akademik

Pembelajaran Bahasa Indonesia juga mengajarkan mahasiswa untuk menjunjung tinggi etika akademik. Dalam perkuliahan, mahasiswa dikenalkan dengan cara mengutip sumber, melakukan parafrasa, dan menyusun daftar pustaka dengan benar. Hal-hal tersebut terlihat sederhana, tetapi sangat penting dalam penulisan karya ilmiah. Sayangnya, kasus plagiarisme masih sering ditemukan di lingkungan perguruan tinggi. Tidak sedikit mahasiswa yang menyalin isi dari buku, jurnal, atau internet tanpa mencantumkan sumber karena kurang memahami cara mengutip yang benar atau ingin menyelesaikan tugas dengan cepat. Padahal, plagiarisme merupakan tindakan yang melanggar etika akademik dan dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya mengajarkan cara menulis karya ilmiah, tetapi juga membiasakan mahasiswa untuk bersikap jujur, menghargai karya orang lain, dan bertanggung jawab atas tulisan yang dibuat.

Meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan logis

Pembelajaran Bahasa Indonesia juga membantu mahasiswa melatih cara berpikir yang kritis dan logis. Dalam proses perkuliahan, mahasiswa sering diminta menganalisis suatu permasalahan, membaca berbagai referensi, kemudian menyampaikan pendapat berdasarkan fakta dan data yang diperoleh. Kegiatan tersebut mengajarkan mahasiswa untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan, melainkan memahami suatu persoalan dari berbagai sudut pandang terlebih dahulu. Selain itu, mahasiswa juga belajar menyusun argumen yang runtut sehingga gagasan yang disampaikan mudah dipahami dan dapat dipertanggungjawabkan. Kemampuan berpikir seperti ini tidak hanya berguna selama menjalani perkuliahan, tetapi juga menjadi bekal ketika menghadapi tantangan di dunia kerja yang menuntut kemampuan menganalisis masalah dan mengambil keputusan secara tepat.

Meningkatkan kemampuan komunikasi profesional

Selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi, mahasiswa akan sering berkomunikasi dengan dosen, baik secara langsung maupun melalui media daring. Namun, hingga saat ini masih banyak dosen yang mengeluhkan cara mahasiswa menghubungi mereka melalui aplikasi pesan atau surat elektronik. Beberapa mahasiswa mengirim pesan tanpa memperkenalkan diri, tidak menyampaikan tujuan dengan jelas, menggunakan bahasa yang ambigu bahkan menghubungi dosen di luar jam yang wajar tanpa memperhatikan etika komunikasi. Padahal, hal-hal sederhana seperti menggunakan salam pembuka, memperkenalkan identitas, menyampaikan maksud secara singkat dan sopan, serta mengakhiri pesan dengan ucapan terima kasih merupakan bentuk komunikasi yang profesional. Melalui pembelajaran Bahasa Indonesia, mahasiswa dibekali kemampuan memilih kata yang tepat, menyusun kalimat yang efektif, dan menggunakan bahasa yang santun sesuai dengan lawan bicara dan situasi.

Pada akhirnya, keberhasilan mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh penguasaan ilmu sesuai bidangnya, tetapi juga oleh kemampuan menyampaikan gagasan, berpikir kritis, dan berkomunikasi dengan baik. Semua kemampuan tersebut berawal dari pembelajaran Bahasa Indonesia yang sering kali dianggap sederhana. Sudah saatnya mahasiswa memandang mata kuliah ini bukan sekadar kewajiban, melainkan investasi keterampilan yang akan terus bermanfaat dalam kehidupan akademik maupun dunia profesional.

Editor: Nur Ardi, Tim EDISIKINI.com