Ketika AI Mampu Berkarya: Mengapa Pendidikan IPS Tetap Penting dalam Membentuk Kreativitas dan Karakter?

Avatar photo
Ketika AI Mampu Berkarya: Mengapa Pendidikan IPS Tetap Penting dalam Membentuk Kreativitas dan Karakter?

EDISIKINI.COM, Jakarta — Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Kini, AI mampu menghasilkan tulisan, gambar, video, hingga presentasi hanya dalam hitungan detik. Kemudahan tersebut tentu membawa banyak manfaat, tetapi juga memunculkan pertanyaan penting: jika AI mampu menghasilkan karya, apakah manusia masih perlu mengembangkan kreativitasnya?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan karena AI mulai digunakan oleh peserta didik, termasuk di sekolah dasar. AI dimanfaatkan untuk mencari informasi, merangkum materi, menerjemahkan teks, bahkan membantu menyelesaikan tugas. Kehadirannya memang dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran dan memudahkan guru maupun peserta didik dalam mengakses berbagai sumber belajar. Namun, di balik kemudahan tersebut terdapat tantangan yang perlu menjadi perhatian.

Mari Simak terlebih dahulu data kemendikdasmen tentang penggunaan AI di zaman ini:

https://puslapdik.kemendikdasmen.go.id/minimalisir-dampak-negatif-penggunaan-ai-di-sekolah-perlu-kerjasama-semua-pihak/

Menurut Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik) Kemendikdasmen, tantangan penggunaan AI di sekolah tidak dapat diatasi oleh satu pihak saja. Pemerintah menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, guru, keluarga, dan masyarakat untuk meminimalkan dampak negatif AI sekaligus memastikan teknologi dimanfaatkan secara bijaksana dalam mendukung proses pembelajaran.

Kemampuan AI dalam memberikan jawaban secara instan berpotensi membuat peserta didik terbiasa bergantung pada teknologi. Akibatnya, mereka dapat kehilangan kesempatan untuk berpikir kritis, menganalisis masalah, dan menemukan solusi secara mandiri. Padahal, kreativitas tidak lahir dari hasil yang instan, melainkan dari proses belajar, pengalaman, refleksi, dan keberanian mencoba berbagai kemungkinan. Fenomena ini semakin terlihat di era media sosial. Berbagai karya yang beredar di ruang digital kini banyak dihasilkan dengan bantuan AI.

Masyarakat sering kali lebih mengapresiasi kecepatan menghasilkan karya daripada proses di baliknya. Kondisi tersebut dapat membentuk anggapan bahwa kreativitas tidak lagi membutuhkan usaha karena semuanya dapat dilakukan oleh teknologi. Padahal, AI memiliki keterbatasan. Meskipun mampu mengolah data dan menghasilkan berbagai bentuk karya, AI tidak memiliki empati, nilai moral, pengalaman hidup, maupun tanggung jawab sosial sebagaimana manusia. Oleh karena itu, kreativitas manusia tetap memiliki nilai yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin.

Di sinilah pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Sekolah tidak hanya bertugas mengenalkan teknologi kepada peserta didik, tetapi juga membimbing mereka agar mampu memanfaatkannya secara bijaksana dan bertanggung jawab. AI seharusnya menjadi alat pendukung pembelajaran, bukan pengganti proses berpikir. Dalam konteks tersebut, Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) memiliki posisi yang semakin strategis. IPS bukan sekadar mata pelajaran yang mengajarkan fakta tentang sejarah, ekonomi, atau geografi, tetapi juga membentuk peserta didik agar memiliki kemampuan berpikir kritis, kepedulian sosial, sikap toleransi, serta karakter sebagai warga negara yang bertanggung jawab.

Pembelajaran IPS dapat mengajak peserta didik memahami berbagai persoalan nyata yang muncul akibat perkembangan teknologi. Misalnya, ketika membahas keberagaman budaya, peserta didik diajak memahami pentingnya melestarikan budaya lokal di tengah derasnya budaya digital. Dalam materi ekonomi, mereka dapat belajar mengenai perubahan dunia kerja akibat AI. Sementara itu, pada materi interaksi sosial, peserta didik dapat berdiskusi mengenai etika bermedia sosial, penyebaran informasi palsu, hingga pentingnya menghargai hak cipta dan karya orang lain.

Melalui pembelajaran yang kontekstual, IPS membantu peserta didik menyadari bahwa teknologi harus digunakan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Mereka tidak hanya belajar memanfaatkan AI, tetapi juga memahami nilai-nilai yang harus menyertai penggunaannya, seperti kejujuran, tanggung jawab, kerja sama, dan kepedulian terhadap sesama. Sayangnya, saat ini mulai muncul fenomena penyalahgunaan AI dalam dunia pendidikan. Sebagian peserta didik menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas tanpa memahami isi materi atau menyalin hasilnya secara langsung tanpa melakukan pengembangan.

Jika kebiasaan ini terus dibiarkan, proses belajar akan kehilangan maknanya dan kreativitas peserta didik dapat semakin menurun. Karena itu, pendidikan tidak boleh memandang AI sebagai ancaman ataupun solusi atas semua persoalan. Yang lebih penting adalah membangun keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dengan penguatan karakter. AI dapat membantu manusia bekerja lebih cepat, tetapi keputusan, tanggung jawab, dan nilai-nilai kemanusiaan tetap berada di tangan manusia.

Pada akhirnya, secanggih apa pun AI berkembang, teknologi tidak akan mampu menggantikan karakter, empati, dan kreativitas yang tumbuh melalui proses pendidikan. Oleh sebab itu, Pendidikan IPS tetap memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya cakap memanfaatkan teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis, menghargai keberagaman, serta memiliki karakter yang kuat. Dengan demikian, kemajuan AI tidak akan mengurangi peran manusia, melainkan menjadi sarana untuk menciptakan generasi yang kreatif, beretika, dan bertanggung jawab dalam menghadapi tantangan masa depan.

Firman Setiawan

Penulis: Nida Arifah

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor: Nur Ardi, Tim EDISIKINI.com