EDISIKINI.COM — Sebagai negara yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik, pemahaman mengenai mitigasi bencana gempa bumi menjadi krusial untuk ditanamkan sejak dini. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro, Ahmadyoso Adinegoro, menggelar program edukasi kreatif bertajuk “RATAGA: Rumah Tangguh Tahan Gempa Bumi” yang menyasar siswa sekolah dasar di Desa Mutihan.
Program ini tidak sekadar memberikan materi satu arah, melainkan membawa konsep rumit teknik sipil menjadi bahasa visual yang mudah dicerna anak-anak. Dalam paparannya, Ahmadyoso menganalogikan struktur bangunan layaknya tubuh manusia. Pondasi dijelaskan sebagai “kaki” yang menahan agar rumah tidak roboh, kolom sebagai “tiang kuat” yang menopang beban dari bawah ke atas, balok sebagai “penghubung” yang mengikat struktur agar kokoh, hingga atap yang berfungsi sebagai pelindung utama. Pendekatan analogi ini terbukti efektif membuat peserta memahami bahwa setiap elemen rumah memiliki peran vital dalam menjaga keselamatan penghuninya saat terjadi guncangan.
Kegiatan semakin hidup ketika sesi beralih ke simulasi praktik melalui permainan interaktif “Icebreaking Game: Menara Sedotan”. Bukan sekadar permainan biasa, tantangan ini dirancang untuk menguji logika struktur para siswa.
Dalam waktu 15 menit, para siswa ditantang untuk membangun sebuah menara yang harus mampu berdiri sendiri tanpa disandarkan atau dipegang. Aturannya ketat namun sederhana: mereka hanya diperbolehkan menggunakan sedotan dan selotip. Puncak ketegangan terjadi pada sesi uji kekuatan, di mana setiap menara harus bertahan dari hembusan angin (ditiup atau menggunakan kipas) selama kurang lebih 5 detik. Jika menara roboh, maka struktur tersebut dinyatakan gugur.
Melalui permainan ini, siswa secara tidak langsung belajar mengenai konsep kekakuan (stiffness) dan stabilitas struktur. Mereka bereksperimen dengan berbagai bentuk, mulai dari rangka kotak hingga rangka diagonal, untuk menemukan konfigurasi mana yang paling tahan terhadap gaya lateral (angin/gempa). Hal ini selaras dengan prinsip teknik sipil di mana bentuk segitiga atau diagonal (triangulasi) cenderung lebih kaku dan stabil dibandingkan bentuk persegi.
Respons positif terlihat dari antusiasme peserta yang aktif bertanya dan berlomba membuat struktur terkuat. Program kerja monodisiplin ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai pengetahuan sesaat, namun menjadi bekal pemahaman jangka panjang bagi anak-anak Desa Mutihan tentang pentingnya konstruksi rumah yang aman dan tanggap bencana.














