Plot Twist : Ternyata Musuh Terbesar Pasien DM Bukan Cuma Gula, Tapi Isi Kepala Sendiri

Avatar photo
Plot Twist : Ternyata Musuh Terbesar Pasien DM Bukan Cuma Gula, Tapi Isi Kepala Sendiri

Tidak sedikit orang dengan Diabetes Melitus merasa sudah berusaha disiplin menjaga pola makan, mengikuti anjuran 3J (tepat jumlah, tepat jadwal, tepat jenis) serta rutin minum obat. Namun ketika hasil pemeriksaan keluar, angka gula darah masih belum sesuai harapan. Situasi ini sering menimbulkan rasa frustrasi dan pertanyaan, “Apa lagi yang perlu diperbaiki?”

Selama ini, banyak orang menganggap musuh utama diabetes hanyalah nasi putih, minuman manis, atau makanan tinggi gula. Padahal, pengendalian gula darah tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang ada di piring, tetapi juga oleh apa yang sedang terjadi di dalam pikiran.

Ketika Stres Ikut Berperan?

Tubuh manusia memiliki sistem pertahanan alami yang disebut respons stres. Saat seseorang merasa cemas, tertekan, atau menghadapi beban emosional, otak akan mengirimkan sinyal ke kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon seperti kortisol dan adrenalin. Hormon-hormon ini mempersiapkan tubuh untuk menghadapi situasi darurat. Salah satu caranya adalah dengan memerintahkan hati melepaskan cadangan glukosa ke dalam aliran darah sebagai sumber energi cepat. Mekanisme ini sebenarnya normal dan bermanfaat dalam kondisi darurat. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, stres sering kali bukan berupa ancaman fisik, melainkan tekanan pekerjaan, masalah keluarga, beban finansial, atau kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan. Jika stres berlangsung terus-menerus, pelepasan hormon stres yang berulang dapat menyebabkan kadar gula darah lebih mudah meningkat dan lebih sulit stabil. Agar lebih mudah dipahami, bayangkan tubuh seperti sebuah mobil yang sedang berhenti di lampu merah. Mesin sebenarnya tidak sedang melaju, tetapi pedal gas terus diinjak. Akibatnya, bahan bakar tetap mengalir meskipun tidak benar-benar dibutuhkan. Dalam kondisi stres, hati dapat terus melepaskan glukosa ke dalam aliran darah sebagai “bahan bakar darurat”, meskipun tubuh tidak sedang melakukan aktivitas fisik berat. Jika hal ini terjadi berulang, kadar gula darah bisa meningkat dan menjadi lebih sulit dikendalikan.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa peningkatan hormon kortisol akibat stres berkaitan dengan gangguan sensitivitas insulin. Artinya, tubuh menjadi kurang efektif dalam menggunakan glukosa sebagai sumber energi. Inilah mengapa, meskipun asupan gula sudah dibatasi, stres yang berkepanjangan tetap dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan gula darah.

Mengenal Diabetes Distres
Mengelola diabetes bukanlah hal yang ringan. Ada perencanaan makan setiap hari, pengaturan jadwal obat, kontrol rutin, hingga kekhawatiran terhadap komplikasi jangka panjang. Tekanan yang berlangsung lama ini dapat memunculkan kondisi yang dikenal sebagai diabetes distress. Diabetes distress adalah kelelahan emosional yang muncul akibat tuntutan mengelola penyakit kronis. Kondisi ini bukan tanda kelemahan, melainkan respons manusiawi terhadap tekanan jangka panjang. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa individu dengan tingkat diabetes distressy ang tinggi cenderung memiliki kontrol glikemik yang kurang baik dan nilai HbA1c yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengalami distress. Secara tidak langsung, kondisi emosional dapat memengaruhi kepatuhan minum obat, pola makan, aktivitas fisik, hingga motivasi untuk melakukan kontrol rutin, dengan kata lain, aspek psikologis dan fisik saling berkaitan dalam pengelolaan diabetes.

Mengapa Hal Ini Sering Terabaikan?

Dalam praktik sehari-hari, fokus pengelolaan diabetes sering kali lebih banyak tertuju pada angka : kadar gula darah puasa, gula darah dua jam setelah makan, atau HbA1c. Angka-angka tersebut memang penting sebagai indikator medis. Namun, kondisi emosional pasien jarang dibahas secara mendalam. Padahal, stres kronis dapat menjadi faktor yang memperberat pengendalian gula darah. Tanpa disadari, seseorang bisa saja sudah berusaha menjaga pola makan dengan baik, tetapi tekanan emosional yang tidak tertangani membuat hasilnya belum optimal. Memahami hal ini bukan berarti menyederhanakan diabetes sebagai “penyakit karena pikiran”. Diabetes tetap merupakan kondisi metabolik kompleks yang dipengaruhi banyak faktor, termasuk genetik, pola makan, aktivitas fisik, dan terapi medis. Namun, mengabaikan aspek psikologis juga dapat membuat pendekatan pengelolaan menjadi kurang menyeluruh. 

Perlukah Mengelola Stres?

Mengelola stres bukan berarti menghilangkan semua masalah dalam hidup, melainkan membantu tubuh merespons tekanan dengan lebih sehat. Beberapa pendekatan seperti latihan pernapasan, relaksasi, aktivitas fisik teratur, dukungan sosial, atau teknik mindfulness telah diteliti dapat membantu menurunkan respons stres. Teknik ini bersifat pendukung dan tidak menggantikan pengobatan medis yang telah diresepkan. Pendekatan terbaik tetaplah kombinasi antara terapi medis yang sesuai, pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, serta perhatian terhadap kesehatan mental.

Pendekatan yang Lebih Menyeluruh

Pengendalian diabetes memang dimulai dari piring makan dan kepatuhan terapi. Namun keberhasilannya juga dipengaruhi oleh kondisi psikologis. Stres bukan satu-satunya penyebab naiknya gula darah, tetapi dapat menjadi faktor yang membuat pengendalian menjadi lebih menantang. Karena itu, penting untuk melihat pengelolaan diabetes secara menyeluruh. Selain memeriksa kadar gula darah, ada baiknya juga memperhatikan bagaimana kondisi emosional sehari-hari. Apakah ada beban yang terasa berat? Apakah muncul rasa lelah atau jenuh dalam menjalani pengobatan?

Mengakui bahwa kesehatan mental berperan dalam pengendalian gula darah bukanlah bentuk menyalahkan diri sendiri. Justru, ini adalah langkah untuk memahami tubuh secara lebih utuh. Pada akhirnya, tubuh dan pikiran bekerja sebagai satu kesatuan. Ketika keduanya diperhatikan secara seimbang, upaya menjaga kestabilan gula darah pun memiliki peluang lebih besar untuk berhasil.

 

 

DAFTAR PUSTAKA :

Sharma, K., et al. (2022). Stress-induced diabetes: A review. Cureus, 14(10), e29887.

Wang, H., & Ge, L. (2025). A blended mindfulness-based stress reduction program to improve diabetes self-management among people with type 2 diabetes mellitus. Mediation effect analysis, 59(1).

Zhang, Y., et al. (2025). Mindfulness-based interventions for adults with type 2 diabetes mellitus: A systematic review and meta-analysis. 

Editor: Nur Ardi, Tim EDISIKINI.com