EDISIKINI.COM, Pematangsiantar — Tidak jarang kita melihat teman yang setiap pagi menyempatkan diri mencatok rambut sebelum berangkat sekolah atau bekerja, atau bahkan mungkin kita sendiri melakukan hal yang sama. Kebiasaan ini bahkan sudah menjadi ritual wajib yang tidak boleh dilewatkan. Jika iya, kita tidak sendirian. Saya sendiri pernah mengalami fase ketika rasanya “belum siap” keluar rumah apabila rambut belum lurus sempurna hasil catokan.
Pada zaman sekarang, pemandangan remaja dengan rambut lurus dan mengkilap sudah menjadi hal biasa. Penampilan seolah-olah belum lengkap apabila rambut belum “diluruskan” terlebih dahulu. Kebiasaan mencatok rambut setiap hari ini bukan lagi sekadar kebutuhan sesekali, melainkan sudah menjelma menjadi gaya hidup baru bagi banyak remaja menjelang sekolah, kerja, atau acara-acara penting lainnya.
Tren yang Terus Meningkat
Fenomena ini bukan sekadar kesan sekilas. Data penjualan di sejumlah platform belanja daring menunjukkan bahwa alat pengering dan pelurus rambut termasuk kategori produk elektronik kecantikan dengan permintaan tinggi dari konsumen perempuan, terutama pada masa-masa promo kecantikan. Di sisi lain, survei terkait keluhan rambut yang dilakukan lembaga jajak pendapat Jakpat menemukan bahwa mayoritas responden, yakni sekitar 64,7 persen, mengeluhkan kerontokan sebagai masalah rambut yang paling sering dialami. Kerontokan itu sendiri menurut Kementerian Kesehatan dipicu oleh berbagai faktor, salah satunya penggunaan alat penata rambut seperti catokan secara berlebihan. Artinya, kebiasaan mencatok setiap hari bukan hanya soal gaya hidup, tetapi juga berkaitan langsung dengan meningkatnya keluhan kesehatan rambut di masyarakat, termasuk kalangan remaja.
Kenapa Catokan Jadi Andalan?
Ada beberapa alasan mengapa catokan begitu digemari dan digunakan hampir setiap hari.
Alasan pertama, tentu saja untuk membuat rambut terlihat lebih rapi, teratur, dan menambah rasa percaya diri. Rambut yang tampak rapi dianggap dapat menunjang penampilan seseorang, apalagi di kalangan remaja yang penampilannya sering menjadi perhatian utama.
Alasan kedua adalah untuk mengatasi rambut yang bergelombang, mengembang, atau sulit diatur, terutama saat cuaca lembap atau suhu udara sedang tinggi. Dengan dicatok, rambut yang tadinya “berantakan” dapat tampak lebih rapi dan terkontrol dalam waktu singkat.
Alasan ketiga, dan yang menurut saya paling berpengaruh di kalangan remaja saat ini, adalah media sosial. Banyak dari kita terinspirasi oleh konten idola atau influencer favorit, lalu mencoba gaya rambut agar terlihat serupa. Media sosial memang memiliki cara tersendiri untuk membentuk standar penampilan yang akhirnya kita ikuti tanpa sadar.
Di Balik Rambut yang Rapi, Ada yang “Menangis”
Namun, di balik penampilan rapi tersebut, ternyata ada harga yang harus dibayar. Catokan bekerja dengan memanaskan rambut hingga suhu tinggi, umumnya berkisar antara 150-230°C, untuk mengubah struktur keratin rambut sehingga menjadi lurus. Jika digunakan setiap hari tanpa perlindungan yang memadai, panas tersebut dapat merusak lapisan kutikula rambut sehingga rambut menjadi kering, kusam, bahkan mudah patah dalam jangka panjang.
Pandangan ini juga didukung oleh kalangan medis. Dermatolog K. Harish Kumar, MD, DVL, sebagaimana dikutip Popmama.com, menjelaskan bahwa pemakaian alat penata panas secara rutin dalam jangka panjang dapat mengikis minyak alami rambut sehingga rambut menjadi sangat kering dan rapuh. Ironisnya, upaya untuk merapikan rambut lewat catokan yang terlalu sering justru bisa membuat rambut semakin kusut dan lebih mudah patah di bagian tengah helai, bukan tampil semakin rapi seperti yang diharapkan.
Rapi Boleh, Tapi Jangan Lupa Sayangi Rambutmu
Bukan berarti mencatok rambut itu sepenuhnya salah. Yang perlu diubah adalah kebiasaannya, bukan alatnya. Ada baiknya penggunaan catokan tidak dilakukan setiap hari secara berlebihan, melainkan diberi jeda agar rambut memiliki waktu untuk memulihkan diri.
Salah satu langkah pencegahan yang paling penting adalah memakai heat protectant atau pelindung panas sebelum mencatok. Produk ini bekerja dengan membentuk lapisan tipis di sekeliling batang rambut sehingga panas dari catokan tidak langsung mengenai helai rambut, melainkan tersaring lebih dulu. Agar manfaatnya maksimal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat memilih heat protectant. Pertama, perhatikan bahan aktifnya; pilih produk yang mengandung silicone, polimer pelindung termal, atau protein keratin, karena bahan-bahan ini terbukti efektif membentuk lapisan pelindung terhadap panas. Kedua, sesuaikan dengan jenis dan kondisi rambut; rambut tipis atau halus umumnya lebih cocok dengan tekstur spray yang ringan, sementara rambut tebal atau sudah rusak akan lebih terbantu dengan serum atau krim yang teksturnya lebih pekat. Ketiga, cek batas suhu perlindungan yang tertera pada kemasan, lalu usahakan suhu catokan tidak melebihi ambang tersebut, idealnya tidak lebih dari 180-200°C untuk pemakaian sehari-hari. Terakhir, gunakan heat protectant secukupnya dan merata dari pertengahan hingga ujung rambut, karena pemakaian yang terlalu sedikit membuat lapisan pelindung tidak terbentuk sempurna.
Selain heat protectant, perawatan tambahan seperti serum, masker rambut, atau kondisioner pelembap, serta mengurangi frekuensi pencatokan, dapat membantu menjaga kesehatan rambut dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, penampilan rapi memang penting, apalagi di usia remaja yang penuh dengan rasa ingin tampil percaya diri. Namun, ada baiknya kita juga mulai bertanya pada diri sendiri apakah kerapian yang kita kejar hari ini sepadan dengan kesehatan rambut yang mungkin harus dikorbankan di kemudian hari? Sebab, rambut yang sehat sejatinya adalah rambut yang tidak dipaksakan menerima tekanan panas berlebih setiap hari.













