Turis di Tanah Leluhur: Ironi Diaspora dalam Interpreter of Maladies

Avatar photo
Turis di Tanah Leluhur: Ironi Diaspora dalam Interpreter of Maladies

EDISIKINI.COM — Ada ironi yang tajam dan mencolok ketika seseorang kembali ke tanah leluhurnya, namun justru hadir sebagai orang asing. Fenomena ini sering kali dialami oleh kelompok diaspora yang secara biologis mewarisi darah suatu bangsa, tetapi secara kultural telah tercabut dari akarnya. Cerpen Interpreter of Maladies karya Jhumpa Lahiri menyingkap paradoks tersebut dengan sangat apik melalui keluarga Das, sebuah keluarga keturunan India-Amerika yang tengah berkunjung ke India, namun tampak lebih mirip turis ketimbang pewaris budaya.

Perjalanan keluarga Das ke Sun Temple di Konark bersama pemandu wisata mereka, Mr. Kapasi, bukanlah sebuah napak tilas atau perjalanan spiritual untuk “pulang kampung”. Sedari awal, Lahiri membangun narasi bahwa perjalanan ini tak ubahnya wisata eksotis belaka. Hal ini paling jelas terlihat dari bagaimana Mr. Das terus-menerus bersembunyi di balik lensa kameranya. Alih-alih meresapi lingkungan sekitarnya, ia memotret kemiskinan dan penderitaan warga lokal sebagai objek tontonan. Lensa kamera tersebut menjadi metafora yang sempurna untuk jarak psikologis; sebuah sekat yang memisahkan “mereka” (keluarga Amerika yang mapan) dan “yang liyan” (India yang eksotis dan terbelakang).

Di sisi lain, Mrs. Das menunjukkan keterasingan kulturalnya melalui penolakan terhadap norma sosial setempat. Alih-alih berbaur, ia sibuk mengecat kuku, mengabaikan anak-anaknya, dan pada puncaknya, mengungkap rahasia gelap tentang perselingkuhannya kepada Mr. Kapasi tanpa rasa bersalah. Sikap mereka menunjukkan betapa jauhnya bentangan jarak antara “asal-usul” dan “cara hidup”. Pola pikir, bahasa, dan nilai moral keluarga Das sepenuhnya telah dibentuk oleh budaya Amerika yang individualis.

Benturan semacam ini sangat relevan jika dibaca melalui kacamata hibriditas budaya (cultural hybridity). Néstor García Canclini (2012) dalam Hybrid Cultures: Strategies for Entering and Leaving Modernity, menjelaskan bahwa pertemuan dan persilangan unsur-unsur budaya yang berbeda pada akhirnya akan memunculkan struktur, objek, dan praktik baru. Hibriditas ini menuntut perubahan yang tidak sekadar fisik,p seperti urusan paspor atau gaya berpakaian, melainkan transformasi mental yang fundamental (Banaji & Prentice, 1994). Dalam konteks keluarga Das, percampuran identitas India dan Amerika tidak melahirkan kebanggaan ganda, melainkan sebuah ruang hampa di mana mereka tidak sepenuhnya merasa memiliki Amerika, namun juga sama sekali buta dan berjarak terhadap India.

Namun, Lahiri tidak berhenti pada kritik terhadap keluarga Das. Ironi semakin berlapis ketika kita melihat karakter Mr. Kapasi. Sebagai orang asli India yang menetap di tanah kelahirannya, Mr. Kapasi sendiri tidak luput dari pengaruh Barat, yang terlihat dari gaya busananya dan mimpinya yang tertunda sebagai seorang penerjemah diplomatik. Hal ini menegaskan bahwa di era modernitas dan globalisasi, hibriditas budaya bukanlah monopoli kaum diaspora.

Pertemuan antara keluarga Das dan Mr. Kapasi pada akhirnya tidak menjembatani dua dunia, melainkan menyingkap jurang komunikasi yang tak teratasi. Ketika Mrs. Das menceritakan dosa masa lalunya, ia memosisikan Mr. Kapasi layaknya seorang terapis gaya Barat, mengharapkan pembebasan moral dari seseorang yang profesinya adalah “penerjemah penyakit” (interpreter of maladies) di sebuah klinik dokter. Namun, Mr. Kapasi, dengan lensa budaya Timurnya yang masih memegang teguh institusi keluarga, justru mempertanyakan apakah yang dirasakan Mrs. Das itu sekadar rasa bersalah, dan bukan rasa sakit. Perbedaan cara pandang ini memutus ilusi kedekatan di antara mereka.

Pada akhirnya, keluarga Das adalah potret buram tentang ironi diaspora: mereka secara fisik berada di tanah leluhur, tetapi bertindak, berpikir, dan memandang tanah tersebut melalui kacamata seorang turis. Melalui cerita ini, Lahiri memberikan sebuah refleksi yang menohok bahwa identitas bukanlah warisan statis yang otomatis mengalir di dalam darah. Interpreter of Maladies memperlihatkan bahwa “pulang ke asal” tidak selalu berarti “kembali ke rumah”. Terkadang, perjalanan pulang justru menjadi cermin yang menegaskan betapa jauhnya kita telah pergi.

Daftar Pustaka

  • Banaji, M. R., & Prentice, D. A. (1994). The Self in Social Contexts. Annual Review of Psychology, 45(1), 297–332.
  • García Canclini, N. (2012). Hybrid Cultures: Strategies for Entering and Leaving Modernity. University of Minnesota Press.
  • Lahiri, J. (1999). Interpreter of Maladies. Houghton Mifflin Harcourt.
Firman Setiawan

Penulis: Ardi Setiawan, Clarera Widiansi, Farahdila Suci Ramadiah, dan Muhammad Rifqy Daffa

Kontributor Edisikini.com

Editor: Nur Ardi, Tim EDISIKINI.com