Membaca Sejarah Heiho melalui Cerpen “Heiho”: Pengabdian atau Eksploitasi?

Avatar photo
Membaca Sejarah Heiho melalui Cerpen “Heiho”: Pengabdian atau Eksploitasi?
Foto: Arsip Fotoliteratur Elsevier / Netherlands Indies Government Information Service (NIGIS) via gahetna.nl

EDISIKINI.COM, Jakarta — Masa pendudukan Jepang di Indonesia meninggalkan berbagai kisah yang sarat dengan perjuangan sekaligus ironi. Salah satunya adalah keberadaan Heiho, pasukan bantuan militer Jepang yang direkrut dari kalangan pemuda Indonesia. Melalui propaganda, Jepang menggambarkan Heiho sebagai wadah pengabdian kepada bangsa. Namun, pada kenyataannya banyak anggota Heiho justru dimanfaatkan untuk kepentingan perang Jepang.

Gambaran tersebut terlihat dalam cerpen “Heiho” karya Idrus melalui tokoh Kartono. Setelah diterima menjadi anggota Heiho, Kartono merasa bangga karena menganggap keputusannya sebagai bentuk pengorbanan bagi tanah air. Sikap ini menunjukkan keberhasilan propaganda Jepang dalam menanamkan keyakinan bahwa menjadi Heiho berarti ikut memperjuangkan masa depan bangsa.

Pandangan berbeda ditunjukkan oleh Miarti, istrinya. Ia melihat Heiho hanya sebagai alat militer Jepang yang digunakan untuk kepentingan penjajah. Perspektif Miarti sejalan dengan fakta sejarah bahwa Heiho berada di bawah kendali penuh tentara Jepang dan tidak memiliki kedudukan yang setara.

Secara historis, Heiho dibentuk pada tahun 1943 ketika Jepang membutuhkan tambahan tenaga untuk menghadapi Sekutu. Para anggotanya bertugas menjaga markas, mengangkut perlengkapan perang, membangun fasilitas militer, hingga bertempur di berbagai wilayah, termasuk Birma dan Filipina. Mereka sering menghadapi keterbatasan fasilitas dan perlakuan yang kurang layak.

Dalam cerpen, eksploitasi tersebut tampak ketika Kartono menerima perlengkapan yang tidak memadai. Puncak tragedi terjadi saat ia meninggal di Birma setelah delapan bulan bertugas. Ia berangkat dengan semangat pengabdian, tetapi akhirnya menjadi korban perang yang jauh dari tanah air, sementara Miarti harus menjalani hidup tanpa suaminya.

Melalui kisah Kartono, Idrus menunjukkan bahwa Heiho merupakan simbol dilema pemuda Indonesia pada masa pendudukan Jepang. Mereka bergabung bukan semata-mata untuk membantu penjajah, melainkan karena percaya sedang mengabdi kepada bangsa. Namun, semangat tersebut justru dimanfaatkan untuk kepentingan kolonial. Karena itu, Heiho perlu dipahami sebagai bagian dari sejarah yang kompleks, yang mengajarkan pentingnya kesadaran kritis dalam menempatkan semangat pengabdian agar tidak disalahgunakan oleh kekuasaan.

Firman Setiawan

Penulis: Fardini Auralia Jauzaa

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor: Nur Ardi, Tim EDISIKINI.com