Prodi Bioteknologi UNDIP menggandeng Université de Poitiers Perancis melalui Kuliah Program UNDIP GLOBAL CLASSROOM tentang APLIKASI BIOLOGI SEL UNTUK NANODRUG DELIVERY

Avatar photo
Prodi Bioteknologi UNDIP menggandeng Université de Poitiers Perancis melalui Kuliah Program UNDIP GLOBAL CLASSROOM tentang APLIKASI BIOLOGI SEL UNTUK NANODRUG DELIVERY

Semarang, 16 April 2026 — Program Studi Bioteknologi, Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro (UNDIP) telah berhasil menyelenggarakan kegiatan UNDIP GLOBAL CLASSROOM, sebagai bagian dari program World Class University (WCU) Universitas Diponegoro tahun 2026Narasumber yang dihadirkan adalah Farras Daffa Imtiyaz, PhD.   dari Université de Poitiers Perancis, INSERM u1070, Pharmacologie et Science du Medicament, Université de Poitiers.

Acara UNDIP GLOBAL CLASSROOM untuk mata kuliah Biologi Sel tersebut dikoordinir oleh Ketua tim dari Prodi Bioteknologi UNDIP yaitu Prof. Dr. Hermin Pancasakti Kusumaningrum, S.Si, M.Si., serta para dosen pengampu mata kuliah tersebut. Pada kuliah kedua pada tanggal 11 Maret 2026 diberikan topik kuliah sesuai Rencana Pembelajaran Semester mata kuliah Biologi Sel pada Program Studi Bioteknologi Universitas Diponegoro Semarang yaitu Cell transport (point of view for nanodrug delivery). Pada kuliah tersebut, Farras Daffa Imtiyaz, PhD.   menjelaskan bahwa, selama ini pengobatan infeksi bakteri dalam tubuh dilakukan menggunakan antibiotik. Namun penggunaan antibiotik tersebut mempunyai beberapa kelemahan yaitu menyebabkan resistensi, bersifat lebih virulen, membutuhkan waktu yang lama, efek samping lebih terasa dan penyakit akan lebih mudah kambuh kembali. Beliau juga menambahkan bahwa sumber resistensi antibiotik antara lain berasal dari biofilm Intracellular-bacterial community, perubahan struktur dan komposisi membran sel, perubahan struktur dari target obat dan enzim. Antibiotik perlu ditransportasi ke dalam sel. Namun, misalnya pada pengobatan penyakit paru, antibiotik yang digunakan sulit berdifusi melewati sawar darah paru-paru dan berpotensi terakumulasi. Sedangkan pengobatan paru menggunakan nebulisasi atau inhalasi juga mengalami permasalahan ketidakpastian obat dapat terkirim pada sel yang terinfeksi. Antibiotik tersebut misalnya Beta Laktam, Oksazolidinon, aminoglikosid, fluorokuinolon, sulfonamida dan lainnya.

Farras Daffa Imtiyaz, PhD. juga menerangkan bahwa permasalahan tersebut kemudian dicoba diatasi dengan menggunakan NANOTEKNOLOGI BERBASIS LIPID yang mudah masuk ke dalam sel inang dan sel patogen. Nanopartikel berbasis lipid ini mempunyai keunggulan komponen yang mirip dengan membran sel prokariot dan eukariot, bisa diberi reseptor, membuat obat menjadi lebih efektif, relatif lebih aman, meningkatkan sirkulasi darah, efektif melawan bakteri patogen secara in vitro, mempunyai bioavailability tinggi, tingkat toksisitasnya rendah dan menurunkan resiko resistensi obat. Lebih lanjut, walaupun teknologi tersebut saat ini masih tergolong mahal namun memiliki efek terapeutik dan profilaktif seperti vaksin, tidak dikenal sebagai benda asing dan tidak toksik. Contoh dari nanopartikel berbasis lipid adalah liposom, nanopartikel lipid nanostruktur/ solid, nanoemulsi, kompleks LNP dan micelles.

Kegiatan ini diikuti oleh ratusan mahasiswa Bioteknologi UNDIP yang secara antusias mengajukan banyak pertanyaan terhadap materi yang dipaparkan. Dengan semangat interaksi dan diskusi yang aktif, kegiatan kuliah tamu ini diharapkan dapat memberikan inspirasi dan membuka wawasan keilmuan bagi para mahasiswa dalam mengembangkan Aplikasi Biologi Sel terkait nanoteknologi. Bersama terselenggaranya acara ini, Program Studi Bioteknologi UNDIP berharap dapat membuka semakin banyak peluang kerjasama, baik dalam bentuk penelitian bersama, maupun penguatan jejaring akademik antar civitas akademika dan peneliti antar negara. Kegiatan ini didanai melalui sumber pendanaan non-APBN oleh Program WCU Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro Semarang.

Editor: Nur Ardi, Tim EDISIKINI.com