EDISIKINI.COM, Bekasi — Serambi mekah itu bersimbah deru air, lagi. Namun kali ini dengan jenis air yang berbeda. Setelah 20 tahun lebih berlalu, kini aceh, sumatera utara, hingga padang menjadi dampak bencana deforestasi hutan lindung sumatera.
Kemudian muncul berbagai spekulasi mengenai bencana yang mengapa selalu di akhir tahun.
تَكَادُ السَّمٰوٰتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْاَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا
“Hampir saja langit pecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah, serta gunung-gunung runtuh berkeping-keping”. (QS Maryam : 90)
Aceh, kota yang diperebutkan setelah Papua. Ternyata memang letak inti Indonesia tentang sabang dan marauke. Keduanya adalah aset dan harus dikunci. Dikunci bukan berarti dimiliki. Dimiliki tidak harus didzalimi. Jika kamu menemukan kotoran di tanah milikmu itu adalah kepunyaanmu, tapi jika kamu menemukan emas di tanah milikmu sendiri, itu adalah kepunyaan negara.
Sarkasme dengan kenyataan pahit bahwa kita adalah negara yang terjajah selamanya. Nyatanya sejarah hanya menulis belanda dan jepang sebagai penjajah. Namun dibalik itu puluhan negara eropa mondar mandir, menepi sembari mendzalami sang pemilik tanah khatulistiwa.
Lalu mengapa Aceh lagi?
Pernah mendengar teori konspirasi oleh seorang pilot eropa yang muallaf dan kemudian ditangkap karena mengungkap tsunami adalah rekayasa termonuklir. Data yg tak pernah ada memang. Atau memang dimusnahkan? Sedemikian mungkinkah Aceh diperebutkan? Diperebutkan oleh asing dan didzalimi bangsa sendiri. Apapun itu, bencana sudah terjadi. Dan kali ini memang ulah tangan manusia itu sendiri. Tak puas menggembungkan isi perut, mereka menaikkan taraf penggemukkan harta dan kuasa. Tidak berfikir panjang tentu jika ketamakan sudah merajai manusia.
وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ
“dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” (QS Al Adiyat :8)
Setelah banjir bandang terjadi barulah kritisisme mengungkap fakta dan legenda. Betapa mulianya penjajah belanda yg sekalipun menzalimi rakyat pribumi namun masih memilih paludikultur untuk sistem restorasi hidrologis yang pendeknya dapat mengalirkan arah pembuangan air hujan.
Meskipun pada akhirnya banyak motif mengiringi bahwa Belanda dengan berbagai pertimbangan ekonomi dan strategisasi wilayah sumatera yg kurang mendukung sehingga menjadi wilayah agroforesti.
Tidak berbeda dengan kezaliman para penguasa karena keserakahan kepentingan sekelompok komunitas tidak lagi mempedulikan arti puluhan ribu nyawa.
“Dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat tamak manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya.” Hadits Riwayat Tirmidzi (HR. Tirmidzi no. 2376).
“Kenang.. kenanglah kami..”
Patriotis jeritan korban yg coba kami, para penulis, suarakan..
Air itu datang berbeda dengan air 20 tahun yang lalu.. kali ini ia berlumpur, membawa serpihan tambang yg terasa perih dan panas. Demikian penuturan para korban setempat. Terbayang sudah korban tenggelam dalam sakaratul mautnya. Semoga mereka syahid.
Mungkin Aceh adalah atlantis surgawi. Terlalu kaya untuk berdiri sendiri. Dia harus ikut menopang dosa manusia seluruh pribumi di negeri ini. Idealismenya menuntun hati nurani, dengan religuisitas kota yang paling tinggi.
Tersisalah bagaimana Indonesia raya harus menutupi dosa dari stigma dunia tentang bencana nasional. Bagaimana kepercayaan kembali bisa ditumbuhkan? Bagaimana pengembalian fungsi hutan yang massif dan telah diambil 10 juta hektar di Indonesia?
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” QS Ar-Rum : 41
Semoga hujatan yang mendunia dapat merevitalisasi pohon-pohon dan gelondongan kayu ke jalan yang benar.

Penulis: Asti Dwi Savitri
Mahasiswa Pascasarjana MPAI Universitas 45 Bekasi













