Media Sosial : Teman Atau Musuh Bagi Kesehatan Mental Remaja?

Avatar photo
IMG_20260713_151921

“Cuma cek TikTok sebentar. ”

Pernyataan semacam ini mungkin sudah sering kita ucapkan. Awalnya hanya berniat melihat satu atau dua video. Namun, setelah terus menggulir layar, kita tidak sadar waktu sudah berlalu cukup lama. Bahkan, terkadang kita lupa alasan semula mengapa membuka ponsel.

Media sosial memang saat ini sudah menjadi bagian integral dalam kehidupan remaja. Bangun tidur langsung mencari ponsel, saat merasa bosan membuka TikTok, dan sebelum tidur sempat mengecek Instagram. Seolah ada yang kurang jika sehari tidak mengetahui tren terbaru di media sosial. Sebenarnya, media sosial tidak selalu berdampak negatif. Banyak informasi, hiburan, video edukasi, hingga peluang untuk memperoleh penghasilan yang bisa didapat dari sana.

Namun, seiring meningkatnya penggunaan media sosial, saya merasakan ada satu hal yang mengganggu. Banyak orang kini lebih mudah memberikan komentar tanpa mempertimbangkan perasaan orang yang membacanya.

Komentar yang Dianggap Biasa, tetapi Belum Tentu Biasa bagi Orang Lain

Beberapa waktu lalu, saya melihat sebuah video di TikTok. Dalam video itu terdapat seorang pria yang berjualan melalui live streaming. Ia menawarkan barang dagangannya seperti penjual biasa. Akan tetapi, yang menarik perhatian saya adalah kolom komentar.

“Gak laku jualan mending mandi. ” Komentar tersebut muncul berulang kali.

Waktu itu, saya sempat berpikir, apa yang lucu dari komentar itu?

Mungkin saja penulisnya hanya bermaksud bercanda. Setelah menulis, mereka mungkin langsung bergeser ke video lain dan melupakan komentar itu. Namun, orang yang membaca komentar itu mungkin tidak bisa dengan mudah melupakan. Di dalam video itu juga ada tulisan, “Bagaimana jika itu keluargamu yang dikomentari seperti itu dan dia adalah harapan orang tuanya untuk mencari nafkah? ”

Pernyataan ini membuat saya merenungkan bahwa sering kali kita menilai seseorang hanya berdasarkan beberapa detik video. Kita tidak tahu bagaimana hidup mereka, masalah yang dihadapi, atau alasan mengapa mereka memilih berjualan lewat siaran langsung. Bagi kita, itu mungkin hanyalah konten. Namun, bagi orang yang ada dalam video, ini adalah bagian dari kehidupannya.

Rosmalina dan Khaerunnisa (2021) menjelaskan bahwa media sosial mempermudah pengguna untuk berinteraksi dan mengekspresikan pendapat. Namun, pemakaian media sosial yang tidak baik bisa berdampak negatif pada kesehatan mental individu. Saya rasa hal ini terlihat dari kebiasaan berkomentar di media sosial saat ini. Kita jauh lebih mudah mengetik sesuatu di ponsel daripada mengatakannya secara langsung.

Bayangkan seandainya orang yang berjualan itu berdiri tepat di depan kita. Apakah kita masih berani mengatakan, “Gak laku jualan mending mandi,” langsung di depannya?

Mungkin tidak.

Semua Bisa Dianggap Bercanda

Fenomena yang sering terjadi di media sosial adalah komentar tajam dianggap sebagai lelucon. Saat ada seseorang yang merasa tersinggung, jawabannya sering kali sederhana. 

“Cuma bercanda, jangan baper. ”

Menurut saya, ungkapan seperti ini sangat aneh. Si pemberi komentar merasa berhak untuk menyatakan bahwa ucapannya hanyalah lelucon, sementara orang yang menjadi target dianggap berlebihan jika merasa sakit hati. Padahal, kita tidak pernah benar-benar mengetahui kondisi orang lain.

Ilat, Tapada, Durandt, dan Koyongian (2023) menyatakan bahwa penggunaan media sosial dapat mempengaruhi kesehatan mental remaja. Salah satu isu yang mungkin timbul adalah cyberbullying atau penindasan di dunia maya.

Cyberbullying tidak selalu berupa ancaman yang berkepanjangan. Komentar yang menyangkut fisik, olok-olok, dan ucapan yang merendahkan seseorang bisa menjadi bentuk penindasan, apalagi jika dilontarkan secara berulang. Contohnya adalah komentar di video sebelumnya. Seseorang menulis suatu hal, kemudian yang lain ikut merespons dengan tulisan serupa. Seiring waktu, kolom komentar dipenuhi oleh ejekan.

Mungkin bagi penonton hal itu tampak sepele. Namun, bagaimana jika kita berada dalam posisi orang yang jadi sasaran itu?

Saya rasa tidak semua orang mampu menerima komentar buruk mengenai diri mereka secara terus-menerus.

Media Sosial Juga Mendorong Kita untuk Membandingkan Diri

Selain permasalahan komentar negatif, ada juga aspek lain yang cukup akrab dengan kehidupan remaja, yaitu kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.

Ketika kita membuka Instagram, kita melihat teman sedang berlibur. Saat membuka TikTok, ada orang yang baru saja membeli ponsel mahal. Beberapa menit kemudian, muncul video seseorang yang memiliki banyak prestasi. Tanpa sadar, kita melihat kehidupan kita sendiri dan mulai merasa ketinggalan.

“Kenapa kehidupan orang lain terlihat sangat menyenangkan? ”

Saya yakin banyak remaja yang pernah berpikir seperti itu. Padahal, kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan yang mereka bagikan. Kita tidak tahu apa yang terjadi di balik layar saat kamera dimatikan.

Rosmalina dan Khaerunnisa (2021) menjelaskan bahwa media sosial menjadi bagian dari kehidupan remaja sebagai tempat untuk berinteraksi dan berbagi beragam aktivitas. Namun, penggunaan yang tidak terkelola dengan baik dapat berdampak pada kesehatan mental. Masalahnya, kita sering kali membandingkan seluruh hidup kita dengan satu video pendek orang lain. Tentu saja, hidup kita akan terlihat lebih buruk jika dibandingkan dengan bagian terbaik dari hidup seseorang.

Apakah Itu Berarti Kita Harus Menghapus Media Sosial?

Menurut pendapat saya, tidak.

Media sosial masih memiliki banyak keuntungan. Kita dapat mencari informasi, mempelajari hal baru, menunjukkan karya, bahkan mencari sumber penghasilan. Orang yang menjual produk melalui siaran langsung dalam video tersebut adalah salah satu contohnya. Media sosial digunakan untuk menawarkan barang dan mencari pembeli.

Ilat dkk. (2023) menyebutkan bahwa media sosial dapat memberikan dampak positif maupun negatif bagi kesehatan mental remaja. Maka, masalahnya bukan sekadar menggunakan atau tidak menggunakan media sosial, melainkan bagaimana kita memanfaatkannya.

Kita mungkin tidak dapat mengatur semua orang di media sosial. Namun, setidaknya kita bisa mengatur apa yang kita sampaikan. Sebelum berkomentar, mungkin kita perlu berpikir sejenak. Apakah komentar itu benar-benar perlu dikeluarkan? Apakah kita berani mengatakannya secara langsung? Dan bagaimana jika komentar yang sama ditujukan kepada kita atau anggota keluarga kita?

Jadi, Apakah Media Sosial Teman atau Musuh?

Media sosial dapat berfungsi sebagai teman serta musuh bagi kesehatan mental remaja. Media sosial menjadi teman saat digunakan untuk belajar, mencari informasi, berkarya, dan berkomunikasi. Namun, media sosial bisa jadi melelahkan ketika dipenuhi dengan komentar negatif, kebiasaan membandingkan diri, dan penindasan yang dianggap sebagai lelucon.

Dari video TikTok yang saya tonton, saya menyadari bahwa satu komentar yang bagi kita tampak biasa saja mungkin tidak dirasakan sama oleh orang lain. Kita mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk mengetikkan sebuah komentar dan kemudian melupakannya. Namun, orang yang membacanya mungkin tidak akan dengan mudah melupakan hal itu.

Oleh sebab itu, sebelum jari kita mulai menulis di bagian komentar, rasanya kita perlu merenungkan sejenak. Sebab, individu yang kita lihat di depan layar tetaplah seorang manusia. Dan seperti kita semua, mereka juga memiliki perasaan.

Editor: Nur Ardi, Tim EDISIKINI.com