EDISIKINI.COM, Tulungagung — Di era digital saat ini, perdebatan di ruang publik sering kali menjadi sorotan, terutama di media sosial yang seharusnya berfungsi sebagai jembatan komunikasi. Namun, media ini sering berubah menjadi arena penghakiman massal. Dalam konteks ini, terdapat fenomena yang mengkhawatirkan, yaitu penyampaian pesan-pesan keagamaan yang justru menjauhkan orang dari nilai-nilai spiritual, bukannya mendekatkan.
Upaya untuk meluruskan kekeliruan terkadang malah menimbulkan luka.Dakwah, yang secara harfiah berarti “mengajak” atau “menyeru”, seharusnya dilakukan dengan cara yang menghormati dan memberikan kenyamanan kepada pihak yang diajak. Prinsip “merangkul, bukan memukul” menjadi sangat penting dalam konteks ini.
Sejarah menunjukkan bahwa keberhasilan dakwah Rasulullah صَلَّى اللّٰهُ عَلَى مُحَمَّدٍ tidak dibangun di atas ketakutan atau intimidasi, melainkan pada akhlak yang mulia dan kelembutan hati. Dalam menghadapi masyarakat jahiliyah, beliau tidak menggunakan caci maki, melainkan empati.
Tantangan bagi para juru dakwah saat ini, baik di mimbar maupun di media sosial, adalah menahan ego. Ada godaan untuk merasa lebih tahu atau lebih suci ketika melihat kesalahan orang lain, yang sering kali berujung pada tindakan virtual shaming. Tindakan semacam ini hanya akan menciptakan resistensi, sementara pendekatan yang lemah lembut dan penuh pengertian dapat memberikan rasa aman.
Dakwah seharusnya berfokus pada upaya menyelamatkan pendosa, bukan merayakan dosa mereka.Masyarakat saat ini lelah dengan polarisasi dan ketegangan sosial, dan ketika mereka mencari ketenangan dalam agama, mereka membutuhkan jawaban dan solusi, bukan beban rasa bersalah.
Oleh karena itu, reorientasi dalam cara berdakwah menjadi suatu keharusan. Sudah saatnya untuk meninggalkan narasi yang memecah belah dan merendahkan martabat manusia, serta menunjukkan Islam yang penuh kasih sayang sebagai Rahmatan lil ‘Alamin melalui tindakan nyata.












