EDISIKINI.COM, Tangerang — Dalam bukunya yang bertajuk Suti, Sapardi Djoko Damono pernah menulis sebuah larik yang berbunyi, “Sebab sunyi itu pohon, dan pohon itu adalah doa yang lambat laun dilepaskan daun-daunnya.”
Namun di zaman yang serba cepat ini, kita justru ketakutan setengah mati pada kesunyian yang diserukan oleh Sapardi tersebut. Kita sengaja menjebak diri dalam putaran konten berdurasi beberapa detik yang memaksa otak untuk selalu bekerja instan tanpa jeda, seolah hidup akan kiamat jika tidak ada kebisingan di dalam genggaman tangan. Pola pikir yang serba terburu-buru ini secara perlahan mengikis esensi dari berkarya itu sendiri karena kita tidak lagi menanam benih keresahan dengan tulus, melainkan hanya sibuk menuai algoritma demi mendapatkan atensi yang umurnya bahkan tidak lebih lama dari sekali kedipan mata.
Parahnya lagi, kita sudah menjadi generasi yang dongo terhadap sejarah karena merasa apa yang dialami hari ini adalah puncak peradaban manusia, padahal kita sebenarnya hanya sedang mengulang pola lama yang sama namun dalam versi yang jauh lebih dangkal. Ruang siber kita saat ini sudah terlanjur penuh dengan kebisingan yang tidak perlu di mana nilai estetika dan kedalaman sebuah karya hanya diukur dari seberapa viral karya tersebut pada detik ini, bukan dari seberapa dalam bekas yang ditinggalkannya di dalam kepala kita nanti. Akhirnya kita hanya berakhir menjadi audiens yang pasif sekaligus kreator yang latah karena kita jauh lebih takut melihat angka engagement yang anjlok daripada merasa kehilangan integritas dalam menyuarakan sebuah opini yang jujur. Ketakutan massal akan hilangnya atensi inilah yang kemudian menyerahkan kendali penuh atas nalar dan kreativitas kita kepada sistem kurasi mekanis yang bernama algoritma.

Jika Sapardi Djoko Damono masih hidup dan menyaksikan bagaimana cara kita menulis serta memperlakukan gagasan hari ini, mungkin beliau hanya akan menghela napas panjang melihat seluruh kekacauan ini. Sapardi pernah menulis bahwa yang fana adalah waktu, dan bagi beliau waktu adalah sebuah ruang yang sangat luas bagi manusia untuk merenung serta membiarkan setiap ide tumbuh secara organik tanpa perlu dipaksa. Menulis bagi beliau adalah perwujudan dari ketabahan seorang petani yang menanam benih kata-kata bukan karena ingin segera dipanen besok pagi lewat jumlah suka atau dibagikan ribuan kali, melainkan untuk disemai dengan sabar supaya kelak tumbuh menjadi akar yang menghujam dalam di sanubari setiap pembacanya.
Sayangnya kita justru membalik logika tersebut secara drastis dengan menganggap bahwa sebuah karya tulis hanya komoditas murah yang harus tunduk dan dijual ke mesin. Kita seringkali merasa ketakutan jika tulisan kita dinilai terlalu panjang atau terlalu melankolis serta terlalu jujur karena kita khawatir algoritma akan mengubur karya tersebut dalam-dalam di dasar lini masa yang bergerak brutal. Kita menjadi makhluk yang lebih takut dengan angka statistik yang tidak bergerak daripada kehilangan kejujuran dalam beropini di ruang publik. Pada akhirnya kita tidak lagi sedang menulis dengan hati untuk mengetuk kesadaran manusia, melainkan hanya sedang sibuk menyuapi mesin agar mesin itu mau mengakui eksistensi kita di dunia maya yang penuh dengan kepalsuan ini.

Arus digital ini bukan untuk diratapi, melainkan untuk dihadapi dengan kesadaran penuh. Kita tidak bisa memaksa waktu berputar kembali ke masa ketika Sapardi menulis puisi-puisinya di atas lembaran kertas sunyi tanpa interupsi notifikasi. Namun, kita selalu punya pilihan untuk menentukan posisi kita di hadapan mesin. Menjadi penulis atau kreator yang merdeka berarti berani mengambil jarak dari histeria massal bernama trending topic, lalu kembali meyakini bahwa kekuatan sebuah gagasan terletak pada kejujuran maknanya, bukan pada keahliannya merayu algoritma.
Sebagai mahasiswa komunikasi dan bagian dari generasi yang merawat masa depan narasi publik, tanggung jawab kita adalah mengembalikan martabat proses tersebut. Kita harus berani menolak menjadi dongo terhadap sejarah dengan cara berhenti menjadi sekadar buruh angka yang sibuk mengejar atensi instan yang semu. Jika kita terus membiarkan diri kita hanya menuai apa yang dikehendaki oleh kode pemrograman, kita akan menyadari bahwa kita telah kehilangan kemampuan paling mendasar sebagai manusia, yaitu kemampuan untuk merasa dan berpikir secara mendalam. Mari kembali belajar menjadi petani bagi pikiran kita sendiri, yang dengan tabah menanam benih keresahan sejati, merawatnya dengan nalar yang jernih, dan membiarkannya tumbuh menjadi warisan gagasan yang tidak akan pernah bisa dihapus oleh pembaruan sistem apa pun.














